TENTANG SEORANG YANG TERBUNUH DI SEKITAR HARI PEMILIHAN UMUM
Karya: Goenawan Mohammad
“Tuhan, berikanlah suara-Mu, kepadaku”
Seperti jadi senyap salak anjing ketika ronda menemukan
mayatnya
di tepi pematang. Telungkup. Seperti mencari harum dan
hangat padi.
Tapi bau sing itu dan dingin pipinya jadi aneh, di bawah
bulan.
Dan kemudian mereka pun berdatangan - senter, suluh dan
kunang-kunang - tapi tak seorang pun mengenalnya. Ia bukan
orang sini, hansip itu berkata.
“Berikan suara-Mu”
Di bawah petromaks kelurahan mereka menemukan liang luka
yang lebih.
Bayang-bayang bergoyang sibuk dan beranda meninggalkan
bisik.
Orang ini tak berkartu. Ia tak bernama. Ia tak berpartai. Ia
tak
bertandagambar. Ia tak ada yang menagisi, karena kita tak
bisa menangisi. Apa gerangan agamanya ?
“Juru peta yang Agung, dimanakah tanah airku ?”
Lusa kemudian mereka membacanya di koran kota, di halaman
pertama. Ada seorang menangis entah mengapa. Ada seorang
yang tak menangis entah mengapa. Ada seorang anak yang letih
dan membikin topi dari koran pagi itu, yang diterbangkan
angin
kemudian. Lihatlah. Di udara berpasang layang-layang, semua
bertopang pada cuaca. Lalu burung-burung sore hinggap di
kawat,
sementara bangau-bangau menuju ujung senja, melintasi
lapangan
yang gundul dan warna yang panjang, seperti asap yang sirna.
“Tuhan, berikan suara-Mu, kepadaku”