MITOLOGI
Karya: Gus tf Sakai
Saat kanak-kanak, ia gemar melihat dirinya dalam cermin di
kamar Ibu.
''Itulah kamu,'' kata si Ibu seraya menerbangkan seekor
burung ke dalamnya.
Burung itu cantik, pupilnya terang, paruhnya merah muda.
''Sebagai teman, tentu, bila Ibu tak ada.''
Saat ia mulai remaja, cermin itu dipindahkan Ibu ke
kamarnya.
Setiap ia berkaca, burung itu berkicau berputar-putar di
atas kepala.
Apakah yang dikatakannya?
Atau adakah yang diinginkannya?
Bila dirinya tak ada, kadang ia merasa burung itu kesepian;
dan tentu menderita.
Saat dewasa, sebab entah sibuk bekerja, ia mulai jarang
berkaca.
Burung itu, entah memang karena ia lupa, jarang pula tampak
olehnya.
Bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun, mereka bagai bukan
bagian dari bersama.
Tapi suatu ketika, dalam usia separo baya, ia melihatnya.
Burung jelek, kusam, tak ubahnya kelebat suram dalam
hidupnya.
Betulkah itu dia?
Kini ia telah tua.
Di depan cermin, pedih, ia sering merindukannya.
Burung itu -- burung itu, memang, sebenarnya tak pernah ada.
Payakumbuh, 1997